Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi banyak orang. Ketika sebagian memilih bertahan dengan pekerjaan yang ada, tiga alumni Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) justru melihat peluang untuk memulai usaha sendiri.
Salah satunya adalah Heru Wijaya, yang kini menjadi salah satu owner Triaksa Farm, peternakan yang fokus pada bisnis penggemukan domba sekaligus melayani pemotongan hewan ternak di Sleman, Yogyakarta. Yang menarik, usaha tersebut tidak dimulai dengan modal ratusan juta rupiah. Mereka hanya mengumpulkan modal patungan sebesar Rp15 juta dan memulai semuanya dari nol.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan modal bukan selalu menjadi penghalang. Justru, strategi menjalankan bisnis sejak awal menjadi faktor yang menentukan apakah usaha mampu bertahan atau tidak.
Berawal dari Obrolan Santai Saat Pandemi
Heru menceritakan, setelah lulus dari Fakultas Peternakan UGM pada tahun 2020, ia dan teman-temannya sebenarnya sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Namun situasi pandemi membuat aktivitas menjadi terbatas.
Dalam sebuah obrolan santai di warung kopi, muncul pertanyaan sederhana. Mengapa banyak lulusan peternakan justru bekerja di sektor lain, bukan mengembangkan usaha di bidang yang mereka pelajari?
Pertanyaan tersebut akhirnya berkembang menjadi sebuah keputusan untuk mencoba membangun usaha peternakan sendiri. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, mereka menilai bisnis penggemukan domba memiliki risiko yang lebih terukur dibandingkan usaha sapi maupun unggas.
Modal Hanya Rp15 Juta, Kandang Pun Masih Menyewa
Dengan modal patungan Rp15 juta, membangun kandang baru tentu bukan pilihan yang realistis.
Mereka kemudian memutuskan mencari kandang kosong yang bisa disewa. Keputusan ini menjadi salah satu strategi efisiensi modal pada fase awal bisnis.
Target awal pun dibuat sederhana. Mereka hanya memelihara sekitar 20 ekor domba dengan masa penggemukan sekitar dua bulan.
Semua pekerjaan dilakukan sendiri oleh tiga orang pendiri, mulai dari memberi pakan pagi, siang, hingga malam, melakukan perawatan, sampai memastikan kondisi ternak tetap sehat. Saat itu mereka bahkan belum memiliki karyawan kandang.
Strategi tersebut membuat biaya operasional tetap rendah sehingga modal yang terbatas dapat dimanfaatkan untuk membeli bakalan domba dan kebutuhan pakan.
Tantangan Terbesar Bukan Beternak, Tetapi Menjual
Setelah dua bulan masa penggemukan selesai, masalah baru muncul.
Domba sudah siap dijual, tetapi mereka belum memiliki pembeli.
Menurut Heru, kondisi ini justru menjadi tantangan terbesar pada masa awal usaha. Jika domba tidak segera terjual, biaya pakan akan terus bertambah sementara modal usaha sangat terbatas.
Mereka kemudian mengambil langkah sederhana namun efektif.
Heru bersama rekannya mendatangi warung-warung sate untuk menawarkan domba secara langsung. Selain itu, mereka juga memanfaatkan Facebook sebagai media pemasaran. Domba dipasarkan baik dalam kondisi hidup maupun dalam bentuk karkas.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Salah satu warung sate mulai menjadi pelanggan tetap hingga sekarang. Dari sinilah bisnis mereka perlahan berkembang.
Kini Tidak Hanya Penggemukan, Tetapi Juga Pemotongan Hewan
Seiring bertambahnya pelanggan, Triaksa Farm tidak lagi hanya berfokus pada penggemukan domba.
Usaha mereka berkembang hingga melayani pemotongan hewan ternak sebagai bagian dari rantai bisnis yang lebih lengkap.
Langkah ini menjadi salah satu bentuk pengembangan usaha agar nilai tambah tidak hanya berhenti di proses budidaya, tetapi juga sampai pada layanan yang dibutuhkan pelanggan.
Tiga Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Memulai Bisnis Domba
Bagi masyarakat yang ingin mencoba usaha peternakan domba, Heru menekankan bahwa ada tiga aspek utama yang harus dipersiapkan sejak awal.
1. Bangun Relasi dengan Supplier
Menurutnya, mencari bakalan domba dalam jumlah besar bukan perkara mudah.
Ketika kebutuhan sudah mencapai puluhan ekor, peternak tidak bisa hanya bergantung pada satu pemasok. Karena itu, membangun jaringan dengan peternak lain menjadi modal penting agar pasokan tetap tersedia.
Relasi yang kuat juga membantu menjaga kontinuitas usaha ketika permintaan pasar meningkat.
2. Bangun Relasi dengan Supplier
Kesalahan yang sering terjadi adalah memulai produksi terlebih dahulu baru mencari pembeli.
Pengalaman Triaksa Farm menunjukkan hal sebaliknya. Setelah memiliki jaringan pemasok, langkah berikutnya adalah memastikan pasar sudah terbentuk.
Heru mencontohkan kondisi di Yogyakarta, di mana kebutuhan domba cukup tinggi karena banyak warung sate menggunakan daging domba dibandingkan kambing.
Artinya, memahami karakter pasar lokal menjadi bagian penting dalam menyusun strategi bisnis.
3. Infrastruktur Harus Dipersiapkan
Selain supplier dan pasar, kandang serta fasilitas pendukung juga harus diperhitungkan.
Mulai dari gudang pakan hingga tempat tinggal pekerja perlu direncanakan agar operasional berjalan lebih efisien ketika skala usaha semakin besar.
Peluang Bisnis Domba di Yogyakarta Masih Sangat Besar
Menurut Heru, kebutuhan domba sebenarnya masih sangat tinggi.
Ia mencontohkan banyak warung sate di wilayah Bantul maupun Sleman yang setiap hari membutuhkan beberapa ekor domba. Bahkan, banyak pelaku usaha kuliner masih harus mengambil pasokan dari daerah lain seperti Magelang, Muntilan, hingga Temanggung karena pasokan lokal belum mampu memenuhi permintaan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang bisnis penggemukan domba masih terbuka lebar, terutama bagi pelaku usaha yang mampu menjaga kontinuitas pasokan.
Tantangan Besar: Pasokan Bakalan dan Daging Impor
Meski peluangnya besar, Heru mengakui masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi.
Salah satunya adalah keterbatasan bakalan domba.
Menurutnya, banyak orang lebih tertarik menjalankan usaha penggemukan dibandingkan breeding atau pembibitan karena perputaran modal lebih cepat.
Padahal, minimnya usaha breeding menyebabkan pasokan bakalan menjadi terbatas.
Selain itu, munculnya daging domba beku impor juga menjadi tantangan tersendiri.
Produk impor menawarkan harga yang lebih murah sehingga berpotensi memengaruhi permintaan terhadap produk lokal.
Namun Heru menilai peternak lokal masih memiliki keunggulan melalui kualitas daging, kondisi karkas, serta tingkat perlemakan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Menjaga kualitas menjadi strategi utama agar tetap mampu bersaing.
Penggemukan Lebih Cepat Dibandingkan Breeding
Heru menjelaskan bahwa secara umum bisnis domba terbagi menjadi dua model, yaitu breeding (pembibitan) dan fattening (penggemukan).
Pada usaha breeding, perputaran modal berlangsung lebih lama karena harus menunggu masa kawin, kebuntingan sekitar enam bulan, proses menyusui, hingga indukan siap dikawinkan kembali.
Sebaliknya, pada usaha penggemukan, siklus usaha hanya sekitar dua bulan sehingga modal dapat berputar lebih cepat.
Inilah yang membuat banyak pelaku usaha memilih masuk ke sektor penggemukan.
Risiko Tetap Ada, Terutama Kematian Ternak
Di balik peluang yang besar, bisnis peternakan tetap memiliki risiko.
Heru mengaku pernah mengalami masa sulit ketika sekitar 12 ekor domba mati hanya dalam waktu kurang dari satu minggu. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan cuaca serta kualitas bakalan yang diterima.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa bisnis peternakan bukan hanya soal menghitung keuntungan, tetapi juga bagaimana mengelola risiko yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Modal Kecil Bisa Bertumbuh Asal Strateginya Tepat
Perjalanan Triaksa Farm memperlihatkan bahwa membangun bisnis tidak selalu dimulai dari modal besar.
Berbekal modal patungan Rp15 juta, mereka memilih menyewa kandang, memulai dari 20 ekor domba, mengerjakan seluruh operasional sendiri, hingga aktif menawarkan produk langsung ke calon pembeli.
Di sisi lain, Heru menegaskan bahwa keberhasilan usaha peternakan tidak hanya bergantung pada kemampuan memelihara ternak. Relasi dengan supplier, kepastian pasar, kesiapan infrastruktur, serta konsistensi menjaga kualitas menjadi fondasi yang jauh lebih penting untuk membangun bisnis yang berkelanjutan.




