Dunia agrobisnis di Yogyakarta nggak pernah ada matinya. Buat kamu yang berusia 18 sampai 45 tahun dan lagi nyari ide bisnis sektor riil yang menjanjikan, sektor perikanan darat patut masuk radar. Salah satu komoditas yang belakangan jadi primadona karena pasarnya yang super stabil adalah budidaya ikan nila merah.
Kali ini, tim reportase lapangan TVBisnis.com berkesempatan mengulik kisah inspiratif dari Agus Triono—atau yang akrab disapa Mas Agus Putut—seorang peternak sekaligus pengelola Agamfis, sebuah tempat budidaya perikanan yang bergerak dari pembenihan sampai pembesaran. Lokasinya sangat strategis di Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Yuk, kita bedah bareng-bareng bagaimana Mas Agus membangun bisnis ini dari nol, tantangannya, hingga analisis mengapa nila merah jauh lebih seksi dibanding ikan lele!
Berawal dari Hobi di Tengah Kerusakan Lahan Batako
Latar belakang Mas Agus sebenarnya adalah seorang pekerja kemanusiaan (social worker) di salah satu lembaga kemanusiaan nasional. Karena kesehariannya dekat dengan dunia pemberdayaan masyarakat dan petani, jiwanya pun ikut terpanggil untuk memanfaatkan lahan pertanian.
Nggak cuma itu, Mas Agus lahir dari keluarga petani. Sejak kecil, ia sering ikut simbahnya yang merupakan perajin batu bata. Kalau kamu main ke daerah Potorono, Jambidan, atau Piyungan, pemandangan pabrik batako atau penambangan tanah memang sangat masif. Sayangnya, aktivitas tambang tradisional ini dalam tanda kutip merusak lingkungan sekitar.
Melihat banyaknya lahan sisa dan bapaknya yang hobi menebar ikan, Mas Agus kecil sudah terbiasa bersinggungan dengan dunia kolam. Awalnya, kolam-kolam itu cuma diisi ikan mujair, bawal, patin, hingga tawes buat sekadar hobi pancingan keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, melihat tren masyarakat Jogja yang doyan banget mancing dan konsumsi ikan, Mas Agus mulai berpikir: “Ini bisa nggak ya menghasilkan cuan yang serius?”
Tepat pada awal tahun 2019, Mas Agus memutuskan untuk fokus mematangkan bisnis agrobisnisnya dengan memilih satu komoditas unggulan: Nila Merah.
Budidaya ikan Nila Merah vs Lele: Mengapa Harus Pilih Nila?
Banyak pemula bingung memilih antara budidaya lele atau nila. Berdasarkan riset pasar dan pengalaman langsung Agamfis di Bantul, ini dia alasan kenapa nila merah punya nilai ekonomi yang lebih menjanjikan:
1. Harga Jual yang Jauh Lebih Stabil
Dalam dunia bisnis perikanan, lele sering kali mengalami fluktuasi harga yang bikin pusing kepala. Kadang naik tinggi, kadang anjlok parah tergantung momen-momen tertentu di pasar. Beda cerita dengan nila merah. Mas Agus membeberkan bahwa nila merah tidak memiliki patokan harga kaku dari pemerintah, melainkan mengikuti dinamika pasar.
Menariknya, harga nila merah di pasaran Jogja berkisar antara Rp34.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Karakteristik pasar nila adalah ketika harganya sudah naik, kecenderungan untuk turun lagi itu sangat susah. Kalaupun turun, nominalnya sangat sedikit. Hal inilah yang membuat proyeksi keuangan growth business nila merah jauh lebih aman buat manajemen finance modal kamu.
2. Potensi Hidup Lebih Tinggi
Bagi para pembudidaya, tingkat kematian ikan adalah risiko operasional terbesar. Secara statistik di lapangan, nila merah memiliki potensi hidup (survival rate) yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan lele, asalkan manajemen dasarnya dikelola secara konsisten.
3. Pasar Jogja yang Selalu Kekurangan Stok
Satu fakta menarik yang ditemukan tim TVBisnis.com di lapangan: pasar Yogyakarta itu kekurangan pasokan nila merah! Pada pergantian tahun (2023–2024), kebutuhan ikan nila melonjak luar biasa tinggi. Stok lokal di DIY bahkan tidak mencukupi, sehingga pasar Jogja sering mendapatkan drop-dropan pasokan ikan dari daerah luar. Ini membuktikan bahwa peluang pasar di Jogja terbuka sangat lebar dan kompetisinya masih sangat sehat.
Jatuh Bangun Operasional: Dari Jamur hingga Pakan Tekor
Memulai bisnis tanpa latar belakang pendidikan perikanan khusus sempat membuat Mas Agus terseok-seok di awal. Modal nekat saja nggak cukup, gaes. Di awal operasional tahun 2019, Agamfis memulainya secara bertahap dari satu kolam terlebih dahulu.
Kolam pertama tersebut memiliki ukuran 15 x 15 meter (luas sekitar 225 meter persegi). Masalah langsung datang bertubi-tubi:
- Kematian Massal Akibat Jamur: Di tebaran awal, hampir separuh dari total bibit ikan nilanya mati mendadak. Saat itu, Mas Agus bingung karena belum tahu penyebabnya, yang ternyata dipicu oleh serangan jamur akibat kualitas air atau bibit yang kurang steril.
- Pakan Habis Banyak, Hasil Nggak Balance: Tantangan kedua adalah pembengkakan biaya pakan operasional. Pakan habis bertruk-truk, ikan banyak yang mati, tapi pas panen tiba, hasilnya tidak seimbang (balance) dengan biaya yang dikeluarkan. Alias, boncos di pakan!
Bukannya menyerah, Mas Agus menjadikan kegagalan ini sebagai motivasi. Beliau aktif melakukan pendekatan knowledge sharing dengan bertanya langsung kepada para petani senior yang sudah lebih dulu sukses. Mas Agus terus meningkatkan kapasitas dirinya untuk mempelajari cara budidaya ikan yang baik dan benar (CBIB).
Kerja keras itu berbuah manis. Memasuki tebaran ketiga, kolam Agamfis mulai menunjukkan hasil panen yang sangat baik dan menguntungkan. Hasil manis tersebut membuat Mas Agus menambah kolam baru secara bertahap dengan memanfaatkan lahan-lahan yang dulunya disewa orang lain untuk dikelola mandiri.
4 Pilar Sukses Budidaya Air Menurut Agamfis
1. Kualitas Benih (Bibit)
Jangan asal murah. Kamu harus tahu kualitas indukannya seperti apa. Bibit yang unggul memiliki daya tahan tubuh kuat dan pertumbuhan yang cepat.
2. Kualitas Air
Prinsip dasar perikanan: “Kita itu sebenarnya bukan budidaya ikan, tapi budidaya air.” Kalau airnya bagus dan sehat, otomatis ikannya juga akan tumbuh bagus. Perubahan kondisi air wajib diamati hari demi hari tanpa absen.
3. Faktor Pembudidaya (SDM)
Karena yang dirawat adalah makhluk hidup, pembudidaya harus punya rasa keterikatan atau chemistry. Dalam istilah Jawa, harus “gemati” (merawat dengan tulus, sayang, dan telaten). Kalau jiwanya sudah menyatu dengan hewan piaraan, merawat kolam tidak akan terasa sebagai beban, melainkan aktivitas santai yang menghasilkan.
4. Kualitas Pakan
Kandungan nutrisi dan manajemen pemberian pakan sangat berpengaruh pada FCR (Feed Conversion Ratio). Pakan yang berkualitas membuat bobot ikan cepat naik tanpa membuang-buang modal.
SOP Pascapanen: Rahasia Sterilisasi Kolam
Agar kolam tetap produktif dan terhindar dari penyakit jamur seperti yang dialami Mas Agus di awal bisnisnya, Agamfis menerapkan standar operasional prosedur (SOP) penyeterilan kolam yang ketat setiap habis panen:
- Pembersihan Kotoran: Sisa pakan dan kotoran ikan yang mengendap di dasar kolam wajib dikuras habis.
- Pembuangan Lumpur: Jika kolam menggunakan dasar tanah atau ada endapan lumpur berlebih, lumpur tersebut harus dihilangkan karena menjadi sarang amonia berbahaya.
- Sterilisasi Gamping: Kolam kemudian ditaburi dengan kapur gamping secara merata untuk membunuh bakteri, jamur, serta menstabilkan pH tanah/kolam sebelum diisi air baru untuk tebaran berikutnya.
Saatnya Ambil Peluang!
Kisah Mas Agus Triono bersama Agamfis di Potorono, Bantul ini membuktikan bahwa keterbatasan latar belakang akademis bukan penghalang untuk sukses di bisnis agrobisnis. Kuncinya ada pada kemauan untuk terus meng-upgrade knowledge, jeli melihat peluang pasar nila merah yang masih defisit di Jogja, serta disiplin menerapkan 4 pilar budidaya.
Gimana, tertarik buat memanfaatkan lahan kosongmu jadi ladang cuan nila merah yang harganya stabil melulu? Jangan takut mulai dari satu kolam kecil dulu seperti Mas Agus!




